| Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat. Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama? Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3) Sumpah Allah Subhanahuwata'ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata'ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat. Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan. Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai. Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan. Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri. Allah berfirman di dalam Al Qur’an: “Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3) Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.” Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda: “Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993) Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal. Amal Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an: “Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133) Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata'ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.” Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169 Allah berfirman: “Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148) Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.” Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda: “Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi) Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170 Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153) Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima? Syarat Diterima Amal Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata'ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut: Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata'ala. Allah Subhanahuwata'ala berfirman; Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim) Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata'ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala. Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda: “Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha) Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya. Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak. Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas. Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata'ala berfirman: “Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2) Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata'ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396 Allah Subhanahuwata'ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri. Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah. Wallahu a’lam . |
Rabu, 22 April 2009
Akankah Amalku Di Terima ?
Sabtu, 18 April 2009
buat prita paramita mahasiswi Manajemen Dakwah UIN SUKA
Demam panggung bisa menyerang siapa saja namun hal ini bisa diatasi dengan teknik pernafasan yang benar serta mengatur pola pikiran :
* Rasa takut bicara didepan umum adalah suatu hal yang biasa yang bisa menghinggapi siapa saja termasuk anda.
* Audience adalah teman bukan lawan
* Perhatikan penampilan, perluas wawasan dan datang lebih awal untuk mempelajari situasi.
* Olah raga secara teratur membantu memperbaiki teknik pernafasan.
* Selalu dalam posisi siap untuk berbicara di depan umum.
* Minumlah segelas air hangat sebelum tampil, hal ini untuk menenangkan pikiran dan mencegah suara menjadi serak.
* Bila anda tidak berni menatap mata audience, tataplah dahinya.
(http://mariasugiono.wordpress.com/2008/10/04/mengatasi-demam-panggung/)
Berdakwah secara lisan akan banyak menggunakan berbicara sebagai bentuk komunikasinya. Komunikasi bentuk ini relatif lebih disukai karena bersifat spontan. Namun bisa berakibat fatal jika berbicara dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu.
Kelebihan Teknik Berbicara dalam berdakwah, antara lain :
a. Tidak merepotkan
b. Hanya memerlukan waktu yang lebih sedikit
c. Tidak memerlukan bentuk (komposisi) baku
d. Tidak perlu menulis
e. Tidak perlu mengirimkan pesan
Kelemahan Teknik Berbicara, atara lain :
a. Kualitas komunikasi tergantung pada kemampuan da’i untuk mengucapkan kata yang tepat dalam mengungkapkan pikirannya
b. Jika orang lain sedang berbicara dan tidak diberi perhatian, maka kemungkinan besar poin penting akan hilang
c. Audiens (mad’u) seringkali menilai isi pembicaraan berdasarkan penampilan fisik tanpa mendengar dulu apa yang disampaikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran berbicara saat berdakwah :
1. Pengetahuan; Dengan pengetahuan yang luas, seorang da’I dapat berbicara dengan lebih lancar dan panjang lebar
2. Intelegensia; Dengan intelegensia yang tingi, seorang da’I akan mampu membuat relevansi antara fenomena dengan lebih cepat dan lebih akurat
3. Kepribadian; Da’I yang berkepribadian selalu percaya diri memungkinkan untuk lebih leluasa berbicara di hadapan orang banyak serta mengemukakan gagasan-gagasan yang mungkin tidak sepaham dengan pendapat mad’u
4. Pengalaman; Seseorang yang sering melakukan ittisholat (kontak) dan melakukan pembicaraan akan menciptakan pengalaman. Pengalaman tersebut yang akan menyebabkan seorang da’I terbiasa dalam menghadapi segala sesuatu pada saat berbicara/berdakwah.
5. Biologis; Berfungsinya alat-alat berbicara yang dimiliki seseorang secara baik akan mempengaruhi kualitas pembicaraan. Seseorang yang berbicara gagap akan menyebabkan malu dan tidak percaya diri.
Persiapan Berdakwah dengan Lisan :
1. Tetapkan Tujuan; secara umum tujuan pembicaraan ada dua, yaitu : memberikan informasi atau untuk mempengaruhi
2. Menganalisis mad’u / yang akan diajak berbicara; pahami sebanyak mungkin informasi mad’u kita
3. Menyusun kerangka pembicaraan yang akan didakwahkan
4. Mengorganisasikan pembicaraan; jangan sampai pembicaraan berkesan “acak-acakan”, tidak jelas mana awal dan akhir.
Beberapa Tips dalam Berdakwah secara Lisan :
1. Kuasai Materi yang akan didakwahkan
2. Kenali Mad’u kita
3. Pahami alur berpikir mad’u
4. Gunakan bahasa dan cara berkomunikasi yang nyaman dan efektif
5. Posisikan lawan bicara (mad’u) bukan sebagai musuh
6. Hindari nuansa menggurui. Bisa menggunakan cara bertanya
7. Tuntaskan pembicaraan, jangan sampai muncul kebingungan
(http://moebarak.wordpress.com/2008/03/10/komunikasi-dakwah/)
Untuk mengupas masalah demam panggung dan grogi serta cara mengatasinya akan menggunakan
dua pendekatan. Pendekatan pertama menggunakan pendekatan neurologis
yakni bagaimana pikiran kita mencerna "keberadaan publik" (audience); dan
pendekatan kedua adalah pendekatan praktis
yakni bagaimana kiat-kiat praktis
menghadapi demam panggung dan grogi.
pendekatan pertama, kenapa secara neurologis
(syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi atau
bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan pulik itu sangat tergantung
bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar,
yaitu --dalam hal ini-- audience (publik).
Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon
pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatu
yang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah
ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan,
maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yang
menyenangkan.
Lebih kongkritnya begini. Kalau
Anda membayangkan jeruk nipis (sesuatu yang
berada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannya
rasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluar
sebagai respon terhadapnya.
Sebaliknya,
kalau Anda membayang buah anggur yang segar, baru keluar dari
kulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan.
Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Anda
menanggapinya dengan negatif maka pikiran bekerja dengan cara negatif,
milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Anda
meresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuat
tenaga untuk memperkuat respon positif Anda.
Audience (publik)
bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau buah anggur
yang manis menyegarkan. Audience adalah sesutau yang netral sifatnya.
"Manis" dan "kecut"-nya, arau "menakutkan" (yang membuat Anda grogi) atau
"menyenangkan" sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya.
Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang "menakutkan" syaraf otak segera
bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif.
Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan negatif untuk
meyakinkan bahwa audience itu "menakutkan".
Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa: 1) audience
terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang
pede; 2) audience akan meneriaki "huuuuuuu..?" bila saya salah; 3) audience
akan mempergunjingkan saya bila saya salah;
4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik; 5) saya akan
malu bila saya salah dalam bicara nanti dan; 6) masih banyak alasan negatif
yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi.
Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan
salah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibuk
memikirkan audience yang "menakutkan"
ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.
Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif.
Pikran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkan
Anda tampil lebih percaya diri.
Anda akan
tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai:
1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untuk
bicara; 2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru;
3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh
setiap orang; 4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara;
5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahan
seperti Anda; 6) dalam sejarah belum ada audience yang "mencemooh" pembicara
bila dalam menyampaikannya secara santun dan; 7) ini adalah kesempatan
terbaik untuk berlatih bicara.
Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara.
Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara.
Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif seperti
tersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi.
Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selama
bicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap "menakutkan". Menakutkan
atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita "menafsirkannya".
Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan
lancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.
Semua yang di jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan
neurologis.
Selanjutnya menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi demam panggung dan grogi.
Sebelum saya memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlu
saya ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara
(pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi
ahli bicara. Semuanya diawali dari, malu, gemetar dengan keringat dingin,
grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman,
seorang yang sudah pengalaman pun kadang- kadang masih dihinggapi rasa
kurang pede dan grogi. Jadi kalau menuggu sampai tidak ada rasa grogi,
dibutuhkan waktu dan jam terbang yang lama. Butuh proses.
Cara-cara berikut ini adalah cara praktis bagaimana
mengatasi grogi.
Pertama, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian
meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil.
Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa
pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh pintar bicara
yang menjadi idola Anda.
Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda
yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan
Anda.
Kedua, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil di
depan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah.
Kalau Anda tidak pernah mencobanya,
maka tidak pernah punya pengalaman.
Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara.
Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani
mencobanya, berarti nyali Anda hebat.
Semakin sering Anda
lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi.
Pokoknya Anda harus berani malu.
Keitga, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada
kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar,
pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang
seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia
seminar, dan acara-acara pengajian. Lama- ama saya biasa. Ingat Anda bisa
karena biasa.
Keempat, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya
ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu,
biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada dua
cara dalam menulis, menulis lengkap kenudian
tinggal membaca atau tulis
pokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda
bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek.
Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saat
bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.
Kelima, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja,
cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangat
membantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untuk
membuat sebuah "bangunan logika", sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda
terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada
saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.
Keenam, perbanyak membaca. Orang bicara atau menulis, tidak lepas dari
kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang
dapat dijadikan acuan pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara
terjadi karena tidak saja grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan
(informasi) yang dimilikinya.
Ketujuh, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat.
Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapi
jadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasah
keterampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadi
pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.
Kedelapan, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara
merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap
saat sehabis bicara.. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas
dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang
lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus
menjadi catatan untuk tampil
lebih baik pada kesempatan mendatang.
Kesembilan, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses tanpa latihan
terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi
bila hanya tampil (berlatih) satu atau dua kali saja. Bicaralah saat ada
kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh
dengan "berbicara" bukan dengan cara "belajar tentang". Satu ons praktik
bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara.
http://amarrahiem.multiply.com/journal/item/7/MENGATASI_GROGI_BICARA_DIDEPAN_UMUM.
Berbicara di depan umum menjadi pekerjaan yang paling dihindari banyak orang. Alasannya, takut malu-maluin atau tidak kuat menahan serangan demam panggung. Kian penting materi pidato, kian gemetar pula seluruh badan.
Berikut ini ada beberapa tips , agar tidak mengalami demam panggung dan pidato penting yang Anda sampaikan pun bisa berjalan dengan lancar.
1. BUATLAH PENDEK. Jangan berpidato terlalu lama dan berpanjang-panjang, karena akan membuat pendengar merasa bosan. Sesuaikan durasi pidato dengan konteks permasalahan.
2. BUATLAH SEDERHANA. Pendengar akan menangkap satu atau dua dari semua ide yang Anda sampaikan. Bukan sepuluh atau dua puluh. Jika Anda tidak bisa mengekspresikannya dalam satu dua kalimat yang sederhana dan mudah untuk dimengerti , pidato akan menjadi tidak fokus.
3. BERSIKAPLAH REALISTIS. Anda diminta berpidato karena memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh pendengar. Berbagilah pengalaman tersebut,dan buatlah mereka juga merasakan apa yang Anda rasakan.
4. MENARIK PERHATIAN KHALAYAK. Pada menit-menit pertama berpidato, jalinlah hubungan dengan pendengar. Lakukanlah interaksi. Tersenyumlah atau menganggukpada moderator. Tunggulah, jangan memulai pidato , sampai Anda mendapat perhatian semua orang. Kemudian, lakukanlah kontak mata, tebar pandangan dengan penuh keyakinan ke arah kiri, kanan, dan tengah ruangan.
5. BICARALAH, BUKAN MEMBACA. Jika Anda berbicara, akan jauh lebih komunikatif dan “hidup” ketimbang membaca skrip / naskah. Ada baiknya menggunakan catatan kecil untuk membantu mengingat apa yang akan Anda sampaikan.
6. RILEKS. Jangan terlalu sering mengambil nafas dalam-dalam atau bernafas terlalu cepat. Ingat, audience bisa melihat ketegangan Anda. Dan ini dapat mengurangi fokus dari pidato yang Anda sampaikan.Bersikaplah santai, dan bernapas sewajarnya, agar diri Anda tetap dalam ketenangan. Posisikan diri Anda sedang berbicara dengan teman sejawat Anda , bukan pada audience.
7. ISTIRAHAT CUKUP, MAKAN CUKUP. Istirahatlah yang cukup, tidak perlu bergadang. Makanlah yang cukup untuk menghindari naiknya kadar asam lambung yang dapat dipicu oleh tingkat stress.
8. BERPENAMPILANLAH YANG MENARIK. Ini merupakan nilai tambah bagi Anda. Setidaknya jika penampilan baju dan aksesoris Anda menarik, mata audience “dipaksa” untuk melihat Anda bukan?
(http://fecekschool.wordpress.com/2009/02/13/cara-berpidato-tanpa-demam-panggung/)
Pada dasarnya semua orang grogi tampil di depan umum, namun penguasaan diri dan penguasaan materi yang ingin disampaikan merupakan syarat pertama agar tidak demam panggung. Tingkat grogi yang dialami masing-masing orang berbeda-beda, untuk meningkatkan percaya diri maka kita harus ingat bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang sempurna.
Gampang kok cara mengatasi demam panggung yaitu banyak latihan untuk berbicara sebelum kita tampil. Ada peribahasa dan ungkapan yang mengatakan "Practice makes perfect" yang berarti semakin banyak anda berlatih maka anda akan terbiasa dengan kondisi yang akan anda hadapi.
Jangan takut dan ragu untuk berbuat kesalahan ketika anda berada di panggung/ depan banyak orang. Jadilah diri anda sendiri dan yakinkanlah diri anda sebelum tampil dengan banyak berlatih. Dijamin rasa percaya diri anda akan semakin baik dengan banyak berlatih.
Ada gunanya juga untuk meminta teman/ sahabat anda menilai bagaimana penampilan anda sebelum tampil sehingga anda semakin mantap dan yakin untuk berbicara di depan banyak orang.
ada cara yang lebih gampang lagi yaitu: sebelum manggung kamu latihan dulu apa yang akan kamu sampekan and lakuin dipanggung hingga bener- bener hafal and faham. dan ketika manggung kamu harus percaya membawakan karakter diri kamu sendiri, jangan berpikir kayak orang itu, kayak orang ini. tapi katakanlah dalam hati anda inilah saya, dan inilah kemampuan saya.
hal-hal yang harus diperhatikan.
1. persiapkan apa yang mau dibuat dipanggung, mau ngomong apa pake gerak apa,
2. setealh belajar sendiri minta orang lain untuk mengoreksi apa yang kamu persiapkan.
3. kalau sudah siap siapkan batin/mental dengan berdoa dulu sebelum tampil
2. kalau sudah dipanggung, pandanglah semua khalayak dengan pandangan penuh arti, tatap satu persatu.dan samapaikanlah dengan penuh kekuatan dengan seluruh kemampuanmu, untuk menarik perhatian audien.
Ada beberapa hal yang bisa bikin kita grogi, tapi yang paling sering menjadi penyebab adalah :
1. Nggak siap dengan materi yang harus kita sampaikan.
2. Menganggap audience lebih pandai atau jabatannya lebih tinggi.
3. Ada orang-orang yang istimewa atau penting, yang membuat kita merasa harus “perfect” di depan mereka.
Berikut ini tiga hal yang kerap jadi penyebab munculnya kegugupan.
1. Pengalaman pertama
Solusi: Pengalaman pertama memang selalu membuat gugup. Yang penting, tetap tenang agar materi yang sudah dikuasai tidak menguap. Untuk membantu, pandanglah wajah peserta dengan fokus di antara matanya saat melakukan komunikasi. Bukan menatap langsung ke mata, karena ini bisa membuat Anda makin gugup.
2. Presentasi di depan profesional/petinggi
Solusi: Jangan terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat peserta terkagum-kagum dengan presentasi Anda. Jangan pula bingung menggunakan teknik apa atau harus mengucapkan kata yang mana. Anggap saja Anda hadir untuk berbagi sesuatu, bukan mengajari mereka sesuatu. 3. Pertanyaan sulit
Solusi: Munculnya pertanyaan dari peserta memang tak bisa dihindari. Itu pentingnya Anda menguasai materi. Hindari juga perdebatan panjang yang mudah memancing emosi karena hanya akan membuat Anda semakin grogi.
Benih.net
papah sayang mamah
puisi cinta mamah dan papah
Ini adalah tahun keempat kita bersama
Menanti berlabuhnya asa di satu biduk cinta terindah
Terombang ambing di tengah lautan luas nan ganas
Berteman satu dayung dan satu tekad
Untungnya…
Perahu ini tetap kokoh seperti mula
Meski ombak tak henti menerjang
Meski pasang sering menenggelamkan harapan
Engkau tetap percaya, engkau tetap mengerti
Engkau tetap menanti
Tak ingin kembali, tak ingin berhenti
Engkau terus ingin bersamaku hingga ke tepi
Di pelabuhan terindah
Bersama cinta dan rindu yang kita punya
Tanpa memandang apa, siapa, tapi bagaimana
Ini adalah tahun keempat kita bersama
Penantian tanpa letih, kesabaran diuji
Di saat satu persatu cinta dua insan biasanya t’lah mati
Engkau tetap disini, tak sedikitpun isyaratkan letih
Percayalah…
Ketulusanmu takkan pernah terganti
Keyakinan dan harapanmu kan terwujud abadi
Sebab kita berjanji bukan sekedar bermimpi
CARA MAMAH ELSA MENYAYANGI PAPAH ELSA
--------S C T P---------
Setia ....................................................................
.............................................................................
Cinta .................................................................
,..........................................................................
Terbuka .........................................................
........................................................................
Percaya...........................................................
.........................................................................
Buktikan.....